Senin, 27 Februari 2012
Tips Sukses Pacaran Jarak Jauh
Pasangan semacam ini memang punya tantangan sendiri. Jika kepercayaan dan cinta tak terlalu kuat, hubungan bisa gampang berantakan. Sebelum itu terjadi, baca dulu tips ini:
- Komunikasi
Zaman sekarang semuanya sudah serba mudah. Walau beda benua banyak alternatif komunikasi yang bisa ditempuh. Selain telepon, dengan kecanggihan internet ngobrol lewat chatting bisa dilakukan. Mau kirim foto, sampai video semuanya serba mungkin. Apalagi biayanya juga jauh lebih murah. Tak ada lagi alasan untuk tak berkomunikasi. Ada keraguan, kecurigaan, atau perasaan lainnya, utarakan langsung pada sang kekasih. Jangan memendam dan menebak-nebak sendiri.
Tentang frekuensinya, sesuaikan dengan kegiatan masing-masing. Jangan sampai mengganggu dan membuat si dia kesal.
Tapi disela-sela komunikasi elektronik, tak ada salahnya sekali-sekali diselingi dengan surat biasa lewat pos. Selain lebih personal, di surat biasa anda bisa membubuhkan wewangian yang sering anda gunakan sehingga menimbulkan perasaan nostalgia pada dirinya. Jika si dia rindu pada makanan rumah tak ada salahnya sekali-sekali mengirim masakan favorit dia. Tapi sebelum itu cek dulu dengan perusahaan pengiriman atau kantor pos tentang prosedur pengiriman makanan.
-Buat kejutan
Kejutan seringkali menjadi penyegar suatu hubungan. Untuk yang jarak jauh bisa memanfaatkan jasa pengiriman. Sesekali mengirim bunga bisa menjadi penawar rindu yang romantis. Jika memang ada waktu yang cukup untuk liburan kejutkan dia dengan datang ke kotanya. Tapi ingat juga kesibukannya, jangan terlalu banyak menuntut waktunya. Jika memungkinkan, cari tahu dulu jadwal dia pada hari itu. Kunjungan anda juga tak perlu lama-lama, yang penting perasaan rindu sudah terobati.
-Tetapkan peraturan
Untuk menghindari salah paham dan hal-hal yang tidak diinginkan sebaiknya anda menetapkan beberapa aturan dasar. Misalnya, berapa lama harus bertemu, apakah setiap hari harus menelepon, adakah hari khusus dimana anda harus bertemu, serta berbagai aturan main lainnya.
-Antisipasi segala kemungkinan
Namanya hubungan jarak jauh, faktor penghalang pasti banyak menghadang. Walaupun sudah buat rencana anda harus selalu siap untuk kemungkinan terburuk. Misalnya ketika sudah janji bertemu, kekasih anda ada meeting tiba-tiba. Atau bisa saja anda tak bisa pergi bertemu dia karena sahabat perlu teman curhat setelah putus dari pacar.
-Percaya dan Sabar
Ketika sudah berkomitmen untuk hubungan jarak jauh, kepercayaan pada pasangan sangat penting. Jika tak bisa percaya pada pasangan sebaiknya anda berpikir dua kali sebelum menjalani hubungan jarak jauh. Anda bisa lelah sendiri disiksa kecurigaan dan kecemburuan karena tak bisa selalu mengawasi sang kekasih. Jika ada perasaan curiga atau gelisah, langsung ungkapkan kepadanya. Jangan dipendam sendiri dan berkembang menjadi masalah.
Keadaan emosi memang sulit dikontrol. Kadang kesal sedikit bisa jadi masalah. Khusus untuk pasangan jarak jauh, kesabaran adalah aspek yang penting. Seperti dilansir lovearticle, Rabu (21/9/2005), emosi pasangan pada hubungan jarak jauh lebih mudah meledak. Padahal seharusnya pasangan tersebut sangat menghargai saat-saat ketika mereka bertelepon atau bertemu.
Karena itu, jika timbul masalah sebaiknya coba bersabar dan jangan langsung meledak. Ingat, pertemuan dan komunikasi yang cukup sulit sebaiknya diisi dengan hal-hal yang menyenangkan supaya hubungan lebih mesra. Selalu akhiri pembicaraan dengan kata-kata yang manis.
-Timbang baik dan buruknya
Tidak semua orang bisa menjalani hubungan jarak jauh dengan baik. Perlu banyak kesabaran dan usaha untuk melewati itu semua. Coba pertimbangkan positif dan negatif hubungan yang tengah dijalani. Apakah anda dan pasangan bahagia? Apakah anda lebih sering bertengkar daripada bermesraan? Apakah hubungan berubah menjadi buruk setelah kekasih pindah ke kota lain? Dan berbagai hal lainnya.
Jika setelah ditimbang ternyata hal buruk lebih unggul, tak ada salahnya anda berpikir dua kali untuk melanjutkan hubungan jarak jauh. Jangan tergesa-gesa mengakhiri hubungan, bicarakan dulu baik-baik dengan kekasih. Beri alasan dan argumen yang tepat. Pada akhirnya, akan sangat baik jika anda dan pasangan bisa menemukan jalan keluar. Siapa tahu adanya perubahan malah akan membuat lebih mesra. Tapi jika tidak, kenyataan pahit memang harus ditempuh. Lagian siapa yang mau terus-terusan sedih dan menderita karena cinta.
-Prediksi masa depan
Hubungan yang punya tujuan, pasti bikin anda dan pasangan lebih semangat menjalaninya. Jika memang sudah saatnya tak ada salahnya menguatkan komitmen. Setidaknya jangan menghindar jika membicarakan hal tersebut. Suatu hubungan terutama jarak jauh perlu ‘iming-iming’ yang membuat anda dan pasangan tetap kuat. Setidaknya ada sesuatu yang diharapkan dan dituju. :)
Minggu, 27 November 2011
Janji Allah Bagi Orang Yang Akan Menikah
Ketika
seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul
perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk
juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam
proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.
Berikut
ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam
perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup.
Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan kaum muslimin semuanya. Saya memohon
kepada Allah semoga usaha saya ini mendatangkan pahala yang tiada putus bagi
saya.
Inilah
kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah
wahai saudaraku…
1.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang
keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk
wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.
2.
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika
mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha
Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)
Sebagian
para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu
sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda
telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka
tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam
pikiran mereka terbesit, “apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.
Ayat
tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang
pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda
dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja
mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang
mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha
Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah – dengan kewajiban menafkahi
istri-istri dan anak-anaknya, maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih.
Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin
tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang
berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?
3.
“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang
mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan
seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251,
Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160) [1]
Bagi
siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak
mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.
4.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir”. (Ar Ruum : 21)
5.
“Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ ”. (Al Mu’min : 60)
Ini
juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan
diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan
pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dan seterusnya.
Dalam
berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash,
bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua
tangan, dll. [2]
Perhatikan
juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada
waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit
dunia [3], pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll. [4]
Perhatikan
juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang
haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa
yang diharamkan Allah, dan lain-lain. [5]
Manfaat
lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah
itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha
Mendengar, dst.
Sebagian
orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun
berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan
guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan
hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang
siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya,
maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam”. (Hadits shahih riwayat
Muslim (7/37) dan Ahmad). [6]
Telah
bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka janganlah kamu
mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35). [7]
Telah
bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya jampi-jampi
(mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik.”
(Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan
Hakim). [8]
6.
”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (Al Baqarah :
153)
Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.
Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.
7.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 – 6)
Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.
Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.
8.
“Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)
Agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.
Agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.
9.
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj : 40)
10.
“Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)
Itulah
janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak /
belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih
besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang
harus ada pada setiap muslim.
Jadi,
kenapa ragu dengan janji Allah?
Kamis, 24 November 2011
CIRI-CIRI WANITA SOLEHAH
------------------------
submitted by : Miftachul Arifin
Tidak banyak
syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar
solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah
s.w.t. Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada
Allah dan RasulNya
2. Taat kepada
suami
Perincian dari
dua syarat di atas adalah sebagai berikut:
1- Taat kepada
Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah
s.w.t. ?
- Mencintai
Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup
aurat
- Tidak berhias
dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak
bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering
membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik
kepada ibu & bapa
- Sentiasa
bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak
berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik
terhadap tetangga
2. Taat kepada
suami
- Memelihara
kewajipan terhadap suami
- Sentiasa
menyenangkan suami
- Menjaga
kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut
di hadapan suami.
- Tidak menolak
ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar
tanpa izin suami.
- Tidak
meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak
membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima
tamu yang dibenci suaminya.
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan
fisik & kecantikannya serta rumah tangga
FAKTOR YANG
MERENDAHKAN MARTABAT WANITA
---------------------------------------
Sebenarnya
puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah
faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan
oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.
Faktor-faktor
tersebut ialah:
1) Lupa
mengingat Allah
Kerana terlalu
sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak
heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari
mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang
paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu
agar memainkan peranannya. Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat
23: artinya:
" Maka
sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan
Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya."
Sabda Rasulullah
s.a.w.: artinya:
"Tidak
sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa
yang telah aku sampaikan." (Riwayat Tarmizi)
Mengingati Allah
s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis
ilmu.
2) Mudah tertipu
dengan keindahan dunia
Keindahan dunia
dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja,
malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama
bergelimang dengan dosa dan noda. Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada
Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit. Firman Allah
s.w.t. di dalam surah al-An'am: artinya:
" Dan
tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan
sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh
karena itu tidakkah kamu berfikir."
3) Mudah
terpedaya dengan syahwat
4) Lemah iman
5) Bersikap suka
menunjuk-nunjuk.
Ad-dunya mata' ,
khoirul mata' al mar'atus sholich
Dunia adalah
perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.
source : NN
(Bersyukur) Menjadi Wanita
Sebagian di kalangan wanita masih ada yang
menganggap terlahir menjadi seorang wanita adalah musibah, karena mereka merasa
sudah harus menyandang predikat manusia kelas dua setelah kaum laki-laki.
Bahkan pada masanya, pandangan sebagian orangtua dahulu, melahirkan seorang
anak berjenis kelamin wanita adalah satu hal yang tidak perlu disyukuri (dalam
bahasa yang lebih kasar; satu hal yang patut disesali). Bagaimana tidak, mereka
berpikir mengurus anak perempuan lebih sulit dibanding anak laki-laki. Dari
mulai pakaiannya yang lebih mahal (karena lebih beragam) sampai kepada
perwalian ketika menikah yang menjadi kewajiban bagi sang ayah termasuk
mencarikannya jodoh yang baik. Terlebih ternyata sampai kini pun masih ada
suami-suami (dan terkadang istrinya) yang entah disadari atau tidak masih
terjebak dalam kerangka berpikir diskriminasi gender. Lihat saja ungkapan,
“Anakku lelaki dong …” yang diungkapkan dengan bangga ketika kerabatnya
menanyakan jenis kelamin anak yang baru saja lahir. Atau masih adanya (bahkan
sampai kini) keluarga yang belum mau berhenti memiliki anak sebelum mendapatkan
anak laki-laki, meski sudah memiliki lima anak wanita. Wacana-wacana seperti
inilah yang kemudian terus dihembuskan oleh kaum feminis yang kerap salah dalam
memandang perbedaan gender yang seringkali dibahasakan sebagai ‘pembedaan’.
Sebelumnya juga maaf jika judul diatas harus menggunakan kata “menjadi” karena kata tersebut bisa diartikan sebagai kata transisi atau perubahan dari satu kondisi kepada kondisi yang lain. Kata “menjadi” yang diletakkan di depan kata “wanita” bisa saja diartikan dari bukan wanita menjadi wanita. Namun bukan itu yang dimaksudkan tentu dalam tulisan ini, pemilihan kata “menjadi” didasari pada satu kondisi bahwa masih banyak kaum wanita yang secara fisik adalah wanita namun pola berpikir, tingkah laku, penampilan dan bahkan kebiasaan sehari-harinya pun selalu mengacu kepada obsesi untuk tidak tersaingi oleh kaum lelaki. Mungkin sebenarnya lebih tepat menggunakan kata “sebagai” yang terasa lebih pas digunakan di depan kata “wanita”.
Terlahir sebagai wanita bukanlah satu hal yang harus disesali, karena justru banyak wanita yang merasa bangga sebagai wanita. Ini tentu bukan karena adanya fenomena makin bertebarannya waria, apalagi di negara-negara tertentu ada undang-undang yang mengakui eksistensi kaum tersebut. Bahkan di beberapa negara sering diselenggarakan kontes kecantikan kaum ‘bukan asli wanita’ itu. Diciptakannya laki-laki karena wanita, atau lebih tepatnya wanita diciptakan karena memang laki-laki akan hidup kesepian tanpa wanita (baca: kasih sayang dan ketentraman). Bahwasannya Allah sangat memahami kebutuhan laki-laki (Adam) akan hadirnya wanita yang bersamanya Allah sematkan kasih sayang, kedamaian dan ketentraman hidup, maka Dia pun menciptakan makhluk yang bernama wanita (Hawwa) yang diambil dari salah satu tulang rusuk lelaki.
Bahkan selanjutnya, tak ada yang bisa disombongkan oleh kaum lelaki karena sehebat dan segagah apapun mereka terlahir dari rahim wanita yang sering dianggap sebagai makhluk lemah. Lalu atas dasar apa kemudian para wanita tidak merasa bahwa menjadi wanita adalah satu hal yang seharusnya disyukuri, karena sungguh mereka berada pada posisi yang tidak pernah bisa disamakan oleh lelaki. Lihat saja betapa Rasulullah menempatkan seorang wanita (ibu) lebih utama untuk dipergauli dengan baik.
Wanita dengan segala keistimewaanya, masih terus mendapatkan kenikmatan dari fitrahnya sebagai kaum Hawwa. Mereka, misalnya, tidak diwajibkan mencari nafkah karena suami merekalah yang akan memberi nafkah (QS. Annisa:34), karena hal itu telah diwajibkan atas diri para lelaki yang oleh Allah telah diberikan kelebihan juga sebagai pemimpin dari bagi wanita. Dan jika belum masanya bagi wanita berumahtangga maka kewajiban nafkah atas dirinya pun masih ditanggung oleh ayahnya (yang juga laki-laki).
Kehalusan dan kelembutan sikap yang menjadi ciri khas wanita semakin melengkapi kepercayaan Allah sejak awal menempatkan sebuah janin di rahimnya hingga anak yang dikandungnya itu lahir dan besar dengan sentuhan lembut dan halus yang dimilikinya. Terbukti, disetujui atau tidak oleh kaum lelaki, setiap anak biasanya akan merasa lebih tentram, nyaman dam tenang bila bersama ibu mereka. Ini tentu sangat erat dengan hubungan mereka yang begitu mendalam semasa dalam susuan, apa yang dimakan ibu dirasakan juga oleh anak, perasaan apapun yang menggangu ataupun menggembirakan ibu, terpancar juga dari tangis dan senyuman sang anak.
Allah Sang Pencipta manusia dengan bentuk yang sempurna pun menambahkan kesempurnaan wanita dengan bentuk anatomi yang berbeda dari kaum lelaki. Dengan bentuk dan rupa yang cantik, wanita menjadi makhluk yang terasa tidak indah dunia tanpa kehadiran keindahan tersendiri dari sosok wanita sehingga tidak berlebihan jika Allah mewajibkan kaum lelaki menahan pandangannya (QS. An Nuur: 30). Wanita jualah yang kerap melahirkan inspirasi berbagai puisi dan syair lagu maupun lukisan bertema keindahan.
Tidak hanya itu, sedemikian mulianya wanita dalam pandangan Islam sehingga menjadikan wanita salah satu yang patut dilindungi ketika terjadi peperangan, maka teramat mulialah wanita yang justru ikut bahu membahu bersama kaum lelaki dalam peperangan membela agama Allah.
Nah, dari sekian keistimewaan dan kemuliaan yang dilimpahkan terhadap wanita tentu seharusnya tidak ada alasan bagi wanita (muslimah) untuk bersikeras menuntut persamaan hak dan kewajiban dengan kaum lelaki. Selain karena pembedaan itu tidak ada, karena banyak ayat maupun hadits yang telah menyatakan ketidakberbedaan keduanya dalam persoalan kesempatan beramal dan mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah. Kalaupun ada perbedaan (bukan pembedaan) itu hanya perbedaan yang mengikuti sifat kewanitaan yang dimiliki, semisal tingkat kerasnya pekerjaan. Atau juga hal-hal fitrah yang jelas tidak mungkin bisa dilakukan oleh laki-laki seperti mengandung, melahirkan dan menyusui. Selebihnya, tidak ada yang menghalangi wanita untuk meraih sukses dan prestasi bahkan melebihi lelaki. Wallahu’alam bishshowaab
Sebelumnya juga maaf jika judul diatas harus menggunakan kata “menjadi” karena kata tersebut bisa diartikan sebagai kata transisi atau perubahan dari satu kondisi kepada kondisi yang lain. Kata “menjadi” yang diletakkan di depan kata “wanita” bisa saja diartikan dari bukan wanita menjadi wanita. Namun bukan itu yang dimaksudkan tentu dalam tulisan ini, pemilihan kata “menjadi” didasari pada satu kondisi bahwa masih banyak kaum wanita yang secara fisik adalah wanita namun pola berpikir, tingkah laku, penampilan dan bahkan kebiasaan sehari-harinya pun selalu mengacu kepada obsesi untuk tidak tersaingi oleh kaum lelaki. Mungkin sebenarnya lebih tepat menggunakan kata “sebagai” yang terasa lebih pas digunakan di depan kata “wanita”.
Terlahir sebagai wanita bukanlah satu hal yang harus disesali, karena justru banyak wanita yang merasa bangga sebagai wanita. Ini tentu bukan karena adanya fenomena makin bertebarannya waria, apalagi di negara-negara tertentu ada undang-undang yang mengakui eksistensi kaum tersebut. Bahkan di beberapa negara sering diselenggarakan kontes kecantikan kaum ‘bukan asli wanita’ itu. Diciptakannya laki-laki karena wanita, atau lebih tepatnya wanita diciptakan karena memang laki-laki akan hidup kesepian tanpa wanita (baca: kasih sayang dan ketentraman). Bahwasannya Allah sangat memahami kebutuhan laki-laki (Adam) akan hadirnya wanita yang bersamanya Allah sematkan kasih sayang, kedamaian dan ketentraman hidup, maka Dia pun menciptakan makhluk yang bernama wanita (Hawwa) yang diambil dari salah satu tulang rusuk lelaki.
Bahkan selanjutnya, tak ada yang bisa disombongkan oleh kaum lelaki karena sehebat dan segagah apapun mereka terlahir dari rahim wanita yang sering dianggap sebagai makhluk lemah. Lalu atas dasar apa kemudian para wanita tidak merasa bahwa menjadi wanita adalah satu hal yang seharusnya disyukuri, karena sungguh mereka berada pada posisi yang tidak pernah bisa disamakan oleh lelaki. Lihat saja betapa Rasulullah menempatkan seorang wanita (ibu) lebih utama untuk dipergauli dengan baik.
Wanita dengan segala keistimewaanya, masih terus mendapatkan kenikmatan dari fitrahnya sebagai kaum Hawwa. Mereka, misalnya, tidak diwajibkan mencari nafkah karena suami merekalah yang akan memberi nafkah (QS. Annisa:34), karena hal itu telah diwajibkan atas diri para lelaki yang oleh Allah telah diberikan kelebihan juga sebagai pemimpin dari bagi wanita. Dan jika belum masanya bagi wanita berumahtangga maka kewajiban nafkah atas dirinya pun masih ditanggung oleh ayahnya (yang juga laki-laki).
Kehalusan dan kelembutan sikap yang menjadi ciri khas wanita semakin melengkapi kepercayaan Allah sejak awal menempatkan sebuah janin di rahimnya hingga anak yang dikandungnya itu lahir dan besar dengan sentuhan lembut dan halus yang dimilikinya. Terbukti, disetujui atau tidak oleh kaum lelaki, setiap anak biasanya akan merasa lebih tentram, nyaman dam tenang bila bersama ibu mereka. Ini tentu sangat erat dengan hubungan mereka yang begitu mendalam semasa dalam susuan, apa yang dimakan ibu dirasakan juga oleh anak, perasaan apapun yang menggangu ataupun menggembirakan ibu, terpancar juga dari tangis dan senyuman sang anak.
Allah Sang Pencipta manusia dengan bentuk yang sempurna pun menambahkan kesempurnaan wanita dengan bentuk anatomi yang berbeda dari kaum lelaki. Dengan bentuk dan rupa yang cantik, wanita menjadi makhluk yang terasa tidak indah dunia tanpa kehadiran keindahan tersendiri dari sosok wanita sehingga tidak berlebihan jika Allah mewajibkan kaum lelaki menahan pandangannya (QS. An Nuur: 30). Wanita jualah yang kerap melahirkan inspirasi berbagai puisi dan syair lagu maupun lukisan bertema keindahan.
Tidak hanya itu, sedemikian mulianya wanita dalam pandangan Islam sehingga menjadikan wanita salah satu yang patut dilindungi ketika terjadi peperangan, maka teramat mulialah wanita yang justru ikut bahu membahu bersama kaum lelaki dalam peperangan membela agama Allah.
Nah, dari sekian keistimewaan dan kemuliaan yang dilimpahkan terhadap wanita tentu seharusnya tidak ada alasan bagi wanita (muslimah) untuk bersikeras menuntut persamaan hak dan kewajiban dengan kaum lelaki. Selain karena pembedaan itu tidak ada, karena banyak ayat maupun hadits yang telah menyatakan ketidakberbedaan keduanya dalam persoalan kesempatan beramal dan mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah. Kalaupun ada perbedaan (bukan pembedaan) itu hanya perbedaan yang mengikuti sifat kewanitaan yang dimiliki, semisal tingkat kerasnya pekerjaan. Atau juga hal-hal fitrah yang jelas tidak mungkin bisa dilakukan oleh laki-laki seperti mengandung, melahirkan dan menyusui. Selebihnya, tidak ada yang menghalangi wanita untuk meraih sukses dan prestasi bahkan melebihi lelaki. Wallahu’alam bishshowaab
Ijinkan Aku Menciummu Ibu... Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku dipaksa membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut. Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku. Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi. Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis. Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya. Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang. Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini. Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Sewaktu masih kecil, aku sering
merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas
seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku
dipaksa membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan
rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring
bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua
beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu
bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang
mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang
mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Langganan:
Postingan (Atom)

